Translate

Selasa, 30 Oktober 2012

PERKEMBANGAN FILSAFAT SEJAK ZAMAN YUNANI KUNO SAMPAI SEKARANG



Sebelum filsafat lahir dan berkembang pesat, di Yunani telah berkembang mitos-mitos. Bahkan kalau di pikirkan secara seksama lagi, ternyata filsafat sendiri dilahirkan dan dikembangkan melalui jalan mitologis. mitos-mitos yang berkembang sendiri merupakan metode yang dilakukan untuk memahami segala sesuatu yang ada, karena ketidaktahuan dan penasarannya manusia terhadap alam semesta ini dan pada saat itu jawabannya hanya ada didalam mitos sehingga muncul anggapan bahwa bumi ini bisa gelap karena ada raksasa yang menggemgam bumi ini, dan menjadi terang kembali setelah raksasa melepas genggamannya. Khayalan-khayalan itu menjadi “keyakinan”  yang selanjutnya membentuk pemahaman normatif tentang setiap keberadaan dan kekuatan yang ada didalamnya. Kemudian setelah berkembang jaman manusia pun mulai mencari kebenaran yang bisa dibuktikan secara rasional yang melahirkan sebuah ilmu pengetahuan, mereka berhasil mengubah masyarakat yang mitos menjadi logos yang sekarang dikenal dengan “filsafat”.
Filsafat sebagai induk pemikiran ilmiah selalu berada dibelakang kemajuan suatu peradaban. Langkah ini dimulai dengan cara coba-coba (trial and error). Cara ini membimbing manusia pada kemampuan menemukan pengetahuan ilmiah yang melibatkan observasi dan eksperimen.
Lambat laun perkembangan ilmu filsafat pun semakin pesat,menurut saya perkembangan filsafat terdiri dari 5 periode yaitu: 1) periode yunani 2) periode Helenitas dan Romawi 3) periode Patristik 4) periode ISLAM 5) periode Skolastik 6) periode abad pertengahan 7) periode modern 8) periode baru.

1)     Periode yunani (600 SM – 322 SM)

Pada zaman yunani kuno terdapat 3 masa perkembangan yaitu masa awal, masa kaum sofis serta masa keemasan. Pada masa awal ini, filsafat hanya membahas tentang alam dan kejadian alamiah terutama dalam hubungannya dalam perubahan-perubahan yang terjadi. Namun mereka yakin bahwa perubahan-perubahan ini terdapat suatu unsur yang menentukan, tapi mereka punya perbedaan pendapat tentang perbedaan unsur-unsur tersebut. Seperti Thales menyebutnya unsur air, Anaximandros dengan unsur yang tidak terbatas (to apeiron), Anaximenes dengan unsur udara. Anaximandros dan anaximenes adalah kedua murid Thales namun berbeda pendapat dalam pemahamannya tentang unsur-unsur tersebut. Selanjutnya Heraklitos mengatakan unsur tersebut adalah api, menurutnya api adalah lambang perubahan. Karena tidak ada didunia yang tetap, definitf dan sempurna, tetapi berubah. Segala sesuatu berada dalam status “menjadi” kemudian berubah.
            Pemikiran Phytaghoras berbeda dengan filosof pada masanya kecuali Anaximandros dalam memahami unsur tersebut. Menurutnya unsur tersebut tidak dapat ditentukan dengan pengenalan indrawi, melainkan dapat diterangkan dengan perbandingan dasar antar bilangan, karena Phytaghoras terkenal sebagai pengembang ilmu pasti dengan dalil terkenalnya yaitu “dalil Phyitaghoras”. Perminides dari Elea mengemukakan unsure “metafisika”, yaitu mempersoalkan “ada” yang berkembang menjadi “yang ada, sejauh ada” (being as being, being as such). Dari yang ada, ada,dan yang tak ada, mempunyai arti bahwa prulalitas itu tidak ada.
            Filosof berikutnya kembali kepada pengalaman indrawi, antara lain Demokritos dan Leucippus yang bersama-sama memuat teori “atomisme”. Mereka berpendapat bahwa segala sesuatu yang ada terdiri atas bagian-bagian kecil yang tidak bisa dibagi-bagi lagi, meskipun bentuk atom itu sendiri sangat kecil dan tidak Nampak oleh indra namun atom selalu bergerak membentuk realitas yang tampak oleh indra manusia.
            Di lanjutkan pada masa kaum sofis, yaitu kaum yang pandai berpidato yang tidak lagi menaruh perhatian utama kepada alam, tetapi menjadikan manusia sebagai pusat perhatian studinya. Tokohnya adalah Protagoras, dia memperlihatkan sifat-sifat relativisme (kebenaran bersifat relative), tidak ada kebenaran yang tetap, umiversal dan definitif. Benar, baik dan bagus selalu berhubungan dengan manusia, tidak manidiri sebagai kebenaran mutlak.
            Selanjutnya adalah masa keemasan filsafat di Yunani yang dintadi dengan Socrates (470SM-399SM) yang menentang kaum sofis yang mengatak bahwa kebenaran adalah sifatnya relative dan tidak mutlak. Namun menurut Socrates, kebenaran itu sifatnya mutlak, universal dan obyektif yang harus dijunjung tinggi oleh semua orang. Metode yang digunakan olehnya adalah dengan bertanya secara radikal dan kritis kepada orang yang bersangkutran sampai orang yang ditanya dapat menemukan apa yan baik dan benar didalam dirinya sendiri. Keberanian, kejujuran dan keteguhannya dalam bersifat harus dibayar mahal olehnya dengan meminum racun sebagai hukuman mati karena dia dianggap menyebarkan kesesatan dan merusak moral pemuda dan masyarakat saat itu.
            Dari caranya bersifat, ia mengembangkan secara de facto menjadi suatu metode yang dikenal dengan metode Induktif. Dalam metode ini dikumpulkan contoh dari peristiwa khusus yang diambil cirri-ciri khususnya kemudian dicari cirri-ciri umumnya hingga memperoleh suatu definisi terhadap sesuatu.
            Jasa Socrates yang paling besar adalah mengembalikan tradisi filsafat yunani yang semapt digoyahkan oleh kaum sofis. Socrates mempunyai murid dari kalangan bangsawan yunani bernama Plato (427SM-347SM). Plato mendirikan sekolah filsafat yang disebut Akademia. Dia mengubah metode Socrates menjadi teori Idea. Menurutnya idea adalah bentuk mula jadi atau model yang bersifat umum dan sempurna yang disebut prototypa, sedangkan benda individual dunia hanya merupakan bentuk tiruan yang tidak sempurna/kekal. Oleh karena itu dalam filsafatnya plato menentang realisme karena yang dianggap benar menurut realisme adalah yang dapat diindra dan ada begitu saja, tapi kata plato obyek tersebut sebenarnya sudah ada di dalam idea yang nyata sedangkan  objek duniawi hanyalah tiruan dari dunia idea saja. Gagasan plato ini banyak memberikan dasar pada perkembangan logika.
            Namun demikian logika ilmiah sesungguhnya baru saja terwujud oleh muridnya yaitu Aristoteles (384SM-322SM), karena dia lebih sistematis dalam berfilsafat. Dalam berfilsafat dia menggarap masalah kategori, struktur bahasa, hokum formal konsistensi proposisi, silogisme kategoris, pembuktian ilmiah, perbedaan atribut hakiki dengan bukan hakiki, kesatuan pemikiran, metode berdebat, kesalahan berpikir sampai menyentuh bentuk-bentuk dasar simbolisme.
2)     Periode Helenitas-Romawi

Masa ini tidak lepas dari peranan Raja Alexander Agung, uang membuat kebudayaan yunani menjadi kebudayaan Helenitas. Diera ini dibuka juga sekolah-sekolah baru mengalahkan Akademia plato dan Lykeion aristoteles, sehingga memunculkan banyak aliran-aliran baru seperti stoisisme, epikurisme, skeptisisme, ekletisisme, dan neoplatoisme.
Stoisme adalah mazhab yang didirikan oleh Zeno dari kition di Athena sekitar 300 SM. Nama “stoa” mengacu dari serambi bertiang empat tempat Zeno mengajar. Menurut stoisme jagat raya di ditentukan oleh “logos” yang berarti rasio dengan begitu seluruh kejadian jagat raya ini telah ditentukan dan tidak bisa dielakan dan jiwa manusia merupakan bagian dari logos sehingga mampu mengenali jagat raya. Manusia dapat hidup bahagia dan bijaksana jika menggunakan rasionya dalam mengendalikan diri nafsu-nafsunya secara sempurna. Mati dan hidup merupakan kejadian yang sudah ditentukan dan sifatnya mutlak.
Epikurisme dibangun epikueros (341SM-270SM) yang kembali memunculkan “Atomisme demokritos” bahwa segala hal terdiri atas atom yang senantiasa bergerak dan bertabrakan secara kebetulan sehingga terciptanya segala sesuatu. Dalam ajarannya terhadap manusia, dia berpendapat manusia bisa bahagia jika mengakui susunan dunia ini dan tidak ditakut-takuti oleh dewa. Dengan begini manusia bebas dalam berkehendak untuk mencari kesenangan sepuas-puasnya tanpa harus memperdulikan dewa. Namun jika kesenangan yang manusia dapat terlalu banyak maka ia akn gelisah dan tidak tenang, oleh karena itu yang manusia itu sendiri harus bisa membatasi diri dalam mencari kesenangan itu sendiri agar memperoleh kesenangan yang hakiki yaitu kesenangan rohani.
Skeptisisme dipelopori oleh Pyrrho (365SM-275SM), aliran ini mengajarkan keragu-raguan dan kesangsian terhadap sesuatu yang ada, walaupun sesuatu itu nyata adanya. Karena mereka menyakini bahwa kemampuan manusia tidak akan sampai bisa menemukan kebenaran yang mutlak.
Ekletisisme, Cicero (106SM-43SM). Aliran ini hanya sebagai penengah berbagai aliran filsafat bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai permasalahan namun tidak sampai menggabungkan segala aliran filsafat itu kedalam satu pemikiran namun hanya menggunakan aliran-aliran tertentu pada kondisi tertentu dan tidak memihak kepada aliran apapun.
Neoplatoisme,sesuai dengan namanya aliran ini mencoba menghidupkan kembali filsafat Plato, tetapi dipengaruhi juga oleh aliran filsafat setelahnya seperti Aristoteles dan Stoa, oleh karena itu tidak lah heran jika aliran ini mensintesiskan semua aliran filsafat saat itu. Tokoh nya adalah Plotinos, aliran ini mengajarkan tentang hakikat adanya “yang satu” ayitu Allah. Artinya semuanya berasal dan kembali kepada “yang satu” sehingga menimbulkan gerakan dari atas kebawah dan dari bawah keatas. Pada gerakan dari atas kebawah, artinya taraf yang paling tinggi yaitu Allah mengelurkan taraf-taraf yang ada dibawahnya melalui jalan emanasi yang berarti tidak merubah dan mengurangi kesempurnaan “yang satu”. Prosesnya adalah seperti ini, dari yang satu dikeluarkan akal budi sesuai dgn gagasan plato. Didalam akal budi ada dualitas yaitu yang memikirkan dan yang dipikirkan. Dari akal budi melahirkan jiwa dunia (psyche) dan darinya dikeluarkan materi (hyle) bersama dengan psykhe terciptalaj jagat raya. Sebagai taraf terendah, materi yang palin tidak sempurna dan merupakan pusat kejahatan.
Pada gerakan dari bawah keatas, setiap taraf-taraf yang dikeluarkan yang satu akan kembali menuju Allah, karena manusia memilii tiga taraf(akal budi, psyche, dan hyle) maka hanya manusialah yang mampu kembali pada yang satu. Cara kembalinya ada tiga cara yaitu: penyucian manusia dari materi ketika bertapa, penyatuan manusia dengan tuhan melebihi pengetahuan dan eksistensi.
3)     Periode Patristik
Istilah patristic berasal dari kata latin “patres” yg berarti bapak dalam lingkungan gereja. Dalam era ini, filsafat mulai disusupi oleh teologi kristiani, bahkan terjadi pertentangan juga dikalangan para pemuka agama Kristen ini dalam menanggapi filsafat. Ada tiga pendapat para bapak gereja dalam menanggapinya, pertama,setelah adanya wahyu ilahi melalui roh kudus seharusnya pemikiran filsafat di stop bahkan dihilangkan sama sekali karena dianggap menyalahi alkitab dan dianggap “kafir”. Kedua, berusaha untuk menengahi dan menggabungkan kedua pemikiran tersebut. Ketiga, filsafat merupakan langkah awal menuju pemahaman agama yang harus diterima dan dikembangkan.
Tokoh utama dalam filsafat ini adalah augustinus, ia mengatakan bahwa pemikiran merupakan integrasi dari teologi Kristen dan pemikiran filsafatnya dan filsafat itu sendiri tidak bisa lepas dari iman Kristen. Inti dari filsafat ini hanya membahas 2 aspek yaitu tuhan dan manusia. Oleh karena itu maka pembahasannya mencakup hal-hal yg berhubungan dengan manusia, kepribadian, kesusilaan dan sifat-sifat tuhan. Menurutnya manusia tidak akan sanggup mencapai kebenaran tanpa terang (lumens) dari Allah, meskipun demikian dalam diri manusia sendiri sudah tertanam benih kebenaran yang merupakan pantulan terang allah sendiri yaitu hati nurani.
Sebenarnya para bapak gereja menggunakan pemikiran filsafat adalah guna memudahkan agama Kristen diterima oleh manusia dan mengembangkan agama Kristen irtu sendiri. Namun pada pelaksanaannya agama Kristen itu sendiri yang mengurung dan mengekang pola pikir manusia dalam berfilsafat karena jika ada pemikiran yang ridak sesuai dengan alkitab maka akan langsung dihukum. Dari situlah nantinya akan muncul sekulerisme dikalangan eropa pada abad pertengahan yang memisahkan antara agama dan filsafat bahkan mereka melawan ajaran-ajaran Kristen dan menjadikan akal sebagai tuhan.
4)     Periode ISLAM
Filsafat islam muncul akibat imbas dari gerakan penerjemahan besar-besaran buku-buku peradaban yunani dan peradaban lainnya pada masa Daulat Abasiah dimana pemerintah memberikan sokongan penuh terhadap gerakan penerjemahan kedalam bahasa arab ini, dan prestasi yang paling spektakuler adalah ulama berhasil menerjemahkan ilmu filsafat sebagai mascot peradaban yunani saat itu, baik Socrates, plato, aristoteles maupun lainnya.
Namun filsafat islam bukanlah filsafat aristoteles atau plato yang di bahasa arabkan, akan tetapi independen yang memiliki karakteristik yang sangat berbeda dengan filsafat yunani. Hal ini dibuktikannya dari upaya para ahli ilmu kalam antara mu’tazilah dengan asy’ariah yang menjelaskan bahwa agama islam adalah agama yang rasional sehingga mereka membungkus filsafat dalam baju keagamaan. Dan adanya batasan filsafat masuk ke dalam agama yaitu filsafat tidak boleh dan haram hukumnya mengobrak-abrik akidah agama islam, namun hanya boleh menguatkan akidah dengan cara memikirkan makhluknya saja dan tidak boleh memikirkan tentang dzatnya ALLAH SWT.
Tokoh-tokoh filosof ini adalah ibnu taimiyah, ibnu rusyd (averros), ibnu sina (Avicenna), dan al-farabi. Imbas filsafat masuk ke lngkungan islam adalah munculnya ilmu-ilmu pengatahuan baru seperti ilmu falak, astronomi, pengobatan bahkan para ulama ahli dalam bidang tersebut berhasil membuat karya yang sangat berguna bagi manusia sampai saat ini. Bahkan inu sina dan ibnu rusyd terkenal di barat sana namanya.

5)     Periode skolastik
Filsafat ini mempunyai corak semata-mata agama yang mengabdi kepada teologi yang mencoba mensintesa kan antara kepercayaan dan akal. Berbeda dengan patristic, skolastik hanya mengkaji teologi dan menggunakan filsafat sebagai pembuktiannya.
Tokohnya adalah Thomas Aquinas (1225-1274M), menurutnya pengetahuan didapat melalui indra dan diolah akal tapi akal tidak mampu mencapai relitas tertinggi yang ada pada daerah tuhan. Nah,  filsafat inilah yang bisa memperkuat dalil-dali agama guna lebih mengabdi kepada tuhan.
Pembuktian Aquinas tentang adanya tuhan, pertama, dari sifat ala mini yang selalu bergerak dengan teratur membuktikan bahwa ada yang mengatur semua ini yaitu tuhan. Kedua, allah itu maha besar, sehingga tidak terpikirkan sesuatu yang lebih besar lagi. Ketiga, hal yang terbesar tentulah berada dalam kenyataan karena apa yang ada dalam pikiran saja tidak mungkin lebih besar. Keempat, allah tidak hanya berada dalam pikiran tetapi dalam kenyataan juga, jadi Allah benar-benar ada.
Pandangan etika Aquinas menekankan superioritas kebaikan keagamaan. dasar kebaikan adalah kemurahan hati yang lebih dari sekedar kedermawanan dan belas kasih melainkan terdapat didalam jiwa yang penuh cinta. Cinta kepada tuhan yang harus diutamakan baru cinta kepada sesama manusia.

6)     Periode abad pertengahan
Pada abad pertengahan ini, masyarakat terutama di eropa mulai bosan dengan pembatasan pemikiran mereka terhadap sesuatu oleh gereja. Karena setiap ada suatu pendapat atau pemikiran yang tidak sesuai dengan paham gereja makan akan di kenakan hukuman dan di cap sebagai “kafir” oleh gereja.
Akhirnya manusia mulai mencoba memisahkan hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan. Disini mulai adanya pencarahan dan kebebasan berpikir manusia dalam mencari suatu kebenaran. Namun dimasa ini filsafat masih jatuh bangun dari hasrat radikalisasi pemikirannya. Karena pada saat ini manusia masih mebutukan agama dan bimbingan gereja untuk menjalani hidup yang damai dan memperoleh ketenangan yang hakiki.
7)     Periode modern
Setelah hampir sepuluh abad eropa diselimuti paham teologis yang memanipulasi kebenaran dan mematikan pemikiran bebas. Akhirnya munculnya suatu gerakan cultural yang bertujuan menggulingkan paham gereja yang selama ini mengekang mereka dalam mencari kebenaran dan berpikir bebas, gerakan ini disebut “renaisans” yang artinya kelahiran kembali. Semangat renaisans ini menimbulkan rasa kepercayaan pada otonomi manusia dalam mencari kebenaran. Ilmu pengetahuan yang tadinya tidak berkembang akibat dominasi gereja mulai berkembang dengan pesatnya dimasa renaisans.
Kebenaran tidak lagi bersumber dari alkitab tetapi pada pengalaman empiris dan perumusan hipotesis yang rasional. Oleh karena itu, sumber pengetahuan hanya apa yang secara alamiah dapat dipakai oleh manusia yaitu, akal (rasio) dan pengalaman (empiris). Maka pada abad ini muncul dua aliran yang saling bertentangan yaitu antara aliran rasionalisme dan aliran empirisme. Perdebatan antara kedua aliran ini terus berlangsung dan mempengaruhi pemikiran filsafat setelahnya.
Tokoh dari aliran rasionalisme adalah Rene Descartes (1596-1650), aliran ini menyatakan bahwa sumber pengetahuan yang mencukupi dan dapat dipercaya adalah rasio, hanya pengetahuan yang diperoleh akalah yang memenuhi syarat untuk dijadikan sumber pengetahuan. Pengalaman inderawi selalu diragukan, selalu berubah dan tidak pasti. Bisa saja kursi yang kita duduki adalah tidak nyata dan hanya mimpi belaka. Bahkan dia  sendiri meragukan akan kebenaran adanya dirinya sendiri. Makanya munculah “karena saya berpikir maka saya ada”. Kaum rasionalis selalu meragukan segala sesuatu dan tidak percaya akan pengalamannya sendiri. Pengalaman hanya bisa dipakai untuk meneguhkan pengetahuan yang telah didapatkan oleh akal. Akal tidak memerlukan pengalaman, karena akal mampu menurunkan kebenaran dari akal sendiri. Dan metode yang digunakan adalah deduktif. Namun meskipun begitu, Descartes tidak menafikan tentang adanya tuhan karena menurut dia tuhan adalah “matematikawan agung” yang begitu rasional dalam menciptakan dunia ini secara terstruktur dan  wajib ditemukan oleh akal manusia dalam penciptaannya itu.
Aliran empirisme dengan tokohnya adalah David Hume (1711-1776) mengatakan bahwa, pengalamanlah yang menjadi sumber ilmu pengetahuan baik pengalaman batiniah maupun lahiriah. Akal hanyalah mengolah bahan-bahan pengalaman yang diperoleh inderawi. Karena tidak ada satupun ada dalam pemikiran yang tidak terlebih dahulu terdapat pada data-data inderawi. Contohnya, kita tidak akan mengetahui bahwa api itu panas jika kita sendiri belum mencoba dan membuktikannya bahwa api itu panas. Oleh akal lalu disimpilkan bahwa api itu panas. Lalu munculah pengetahua baru berdasarkan pengalaman. Metode yang digunakan adalah induktif.

8)     Era baru dimulai
Era baru ini dimulai dengan “Kritisisme” Immanuel Kant (1724-1804) yang berusaha mendamaikan antara aliran rasionalisme dan empirisme. Ia mengatakan bahwa pengenalan manusia merupakan perpaduan antara unsur a priori dgn unsur aposteriori. Kant berpendapat bahwa pada taraf inderawi unsur apriori hanyalah kesan yang diterima oleh inderawi sebagai gejala-gejala. Kemudian data-data inderawi tersebut diolah oleh sesuatu yang disebut “akal budi”. Peran akal budi disini adalah memberi putusan-putusan yang kemudian ditransmisikan kedalam otak. Dan oleh otak lah yang akan memilih dan mengesahkan putusan-putusan yang dibuat akal budi. Ibaratnya pengalaman adalah suatu soal pilihan ganda, pilhan-pilihan ganda itu adalah putusan-putusan yang dibuat akal budi kemudian yang bertugas memilih jawaban yang paling benarnya adalah rasio kita.
Selanjutnya adalah Idealisme yang Tokohnya adalaha G. W. F. Hegel (1770-1831). Menyatakan bahwa “setiap Tesa pasti ada Antitesa nya dan dari keduanya akan mengahasilkan Sintesa yang memiliki gabungan sifat dari tesa dan antitesanya tapi sintesa bukanlah tesaaupun antitesa”. Sebagai contohnya, suatu golongan menginginkan Negara menguasi segala urusan agama. Pandangan ini mempunyai dampak positif yaitu adanya kesatuan antara kekuatan dan kekuasaan politik karena tidak ada batasan agama sehingga ketertiban suatu Negara bisa terwujud, ini yang disebut tesa. Antitesa dari pernyataan ini ialah kebebasan agama ditiadakan karena agama harus tunduk kepada pemerintah. Lalu sintesa bagi kedua pendapat tersebut adalah memisahkan antara agam dan pemerintah, baik agama maupun pemerintah harus diberi bagiannya masing-masing, sehingga ketertiban nasional terjamin dan kebebasan agama pun terjamin juga karena tidak tercampur antara kepentingan agama dengan kepentingan politik.
Era ini dilanjutkan dengan munculnya paham Positivisme yang dipopulerkan oleh Auguste Comte (1798-1857). Dia menganggap hokum-hukum alam yang mengendalikan manusia dan gejala sosial dapat dipergunakan sebagai dasar untuk mengadakan pembaharuan –pembaharuan social dan politik untuk menyelaraskan institusi-institusi masyarakat dengan hokum-hukum itu. Sehingga Auguste comte menemukan ilmu baru tetntang masyarakat yaitu “sosiologi”. Positivism erat kaitannya dengan empirisme namun berbeda dengan empirisme yang menjadikan pengalaman batiniah dan lahiriah sebagai sumber pengetahuan. Positivism hanya mengambil yang berdasarkan fakta saja.sebagai contoh, air mendidih 100° C dan besi ini panjangnya 10 meter. Ukuran-ukuran ini perasional, kuuantitatif dan tidak mungkin adanya perbedaan pendapat. Positivisme merupakan aliran tertinggi dari kehidupan manusia karena manusia tidak perlu lagi mencari penyebab-penyebab dari suatu fakta. Manusia hanya berusaha menetapkan relasi-relasi atau hubungan persamaan dan urutan yang terdapat antara fakta-fakta. Dan disinilah ilmu pengetahuan dalam arti yang sebenarnya.
Aliran yang muncul kemudian adalah Fenomenologi dipelopori oleh Edmund Husserl (1859-1938), inti filsafatnya adalah bahwa untuk menemukan pemikiran yang benar seseorang harus kembali kepada “benda-benda” sendiri yaitu hakikat dirinya sendiri. Akan tetapi benda-benda itu tidak langsung meperlihatkan hakikat sendirinya, karena pemikiran pertama tidak membuka tabir yang menutupi hakikat maka diperlukannya pemikiran kedua yang berupa “intuisi”. Dalam menggunakan intuisi digunakan suatu metode yang disebut reduksi yaitu penempatan sesuatu diantara dua kurung. Maksudnya, melupakan pengertian-pengertian tentang objek untuk sementara dan berusaha melihat objek secara langsung dengan intuisi tanpa bantuan pengertian-pengertian yang ada sebelumnya. Tujuannya adalah menemukan bagaimana objek dikonstitusi sebagai fenomena asli dalam kesadaran manusia. Namun fenomenologi mempunyai kelemahan karena dalam menentukan pengetahuan yangmurni objektif tanpa ada pengaruh apapun, tapi fenomenologi sendiri mengakui bahwa ilmu pengetahuan yang diperoleh tida bebas nilai tetapi bermuatan nilai dengan kata lain status seluruh pengetahuan adalah sementara dan relatif.
Aliran selanjutnya adalah Eksistensialisme, tokohnya adalah Friedrich Wilhelm Nietzsche ( 1844-1900). Gagasan utama dari dia adalah kehendak berkuasa (will to power) dimana ditunjukan menjadi ubermensch atau manusia super. Ubermensch adalah cara manusia memberikan nilai pada dirinya sendiri tanpa berpaling dari dunia dan menengok kesebrang dunia, dengan kata lain tidak lagi percaya akan bentuk nilai adikodrati dari manusia dan dunia. Sedangkan eksistensi itu sendiri adalah cara manusia berada didalam dunia dan keberadaannya karena setiap orang mempunyai tempatnya sendiri dalam kehidupan ini yaitu sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Jadi jangan menghendaki sesuatu yang melebihi kemampuanmu, karena melakukan sesuatu yang melebihi kemampuan sendiri mengandung cirri kepalsuan yang menjijikan. Doktrin aliran ini adalah “eksistensi mendahului esensi” yg berarti setelah manusia berada didunia ini, di sendiri yang harus menentukan siapa dirinya ini. Karena pada awalnya manusia bukanlah apa-apa tanpa bereksistensi.
Cara mencapai manusia super adalah dengan cara mereka harus berani menghadapi kehidupan ini baik saat bahagia maupun sedih. Mereka harus cerdas dalam menjadikan penderitaan itu sebagai titik balik untuk memunculkan potensi maksimal dirinya, terakhir dia harus bangga terhadap potensi apa yang dimilikinya.

2 komentar: